Sejarah Printer DTG

Sablon kaos atau mencetak gambar pada kain, awalnya ditemukan di zaman Dinasti Song, China. Lalu diikuti Jepang dan negara Asia lainnya. Setelah itu, teknologi mencetak gambar pada kain atau sablon mulai dikenal di Eropa Barat di akhir abad 17. Setelah revolusi industri tahun 1800 an, teknik cetak baik kertas mau pun kain semakin berkembang. Teknik sablon dipatenkan pertama kali oleh Samuel Simon di Inggris tahun 1907. Pada mulanya, sablon dipakai untuk mencetak di kertas dinding, sutra, pencetakan seprei serta bahan kain lainnya yang berkualitas tinggi sampai sekarang pada tekstil dan pakaian jadi.

Saat ini perkembangan industri sablon di dunia sudah semakin maju dan berkembang. Khususnya pada industri print kaos. Alternatif membuat kaos sablon kini tidak hanya terbatas pada penggunakan sablon manual saja, namun juga sudah semakin maju dengan merambah ke dunia digital.

Bentuk paling awal dari sablon kaos digital adalah menggunakan teknik transfer paper. Secara sederhana teknik yang diterapkan pada sablon kaos digital dengan transfer paper adalah: mencetak gambar dengan menggunakan printer kertas biasa pada kertas khusus yang disebut transfer paper, dengan tinta khusus yang disebut tinta sublime. Setelah itu, gambar yang sudah di-print dipindahkan ke kaos dengan cara melakukan heat transfer. Heat transfer ini dilakukan menggunakan mesin hot press dimana kertas diletakkan diatas kaos lalu dipanaskan. Bentuk paling sederhana dari mesin hot press adalah setrika rumah tangga biasa. Setelah gambar menempel pada kaos, lalu transfer paper dilepaskan atau dipisahkan dari kaos tersebut dengan cara dikelupas.

Cara tersebut cukup rumit dan membutuhkan biaya besar, oleh karena itu teknologi terus berkembang mencari cara agar dapat mencetak langsung pada kaos, tanpa melalui transfer paper. Dari pemikiran tersebut, lahirlah printer DTG (Direct to garment). Semua perusahaan yang mengembangkan teknologi ini awalnya mengadopsi teknologi printer kertas. Tujuannya hanya satu: menggantikan kertas dengan kain. Beberapa perusahaan pelopor adalah ANAJET di Amerika, dan DTG Digital dengan produknya VIPER.  Dalam 10 tahun terakhir perkembangan DTG semakin cepat, dan semakin terjangkau harganya.

Di Indonesia, mesin-mesin DTG impor tersebut sangat jarang berada di pasaran, hal ini disebabkan karena tidak adanya distributor mesin tersebut serta harganya yang mahal dan service yang sulit didapat terkait dengan spare part dan pemeliharaan mesin. Namun demikian, banyak bermunculan printer-printer DTG buatan lokal. Biasanya printer ini merupakan modifikasi dari printer kertas yaitu EPSON yang diubah pada bagian dalamnya agar bisa mencetak pada kaos.

Perkembangan awal printer DTG lokal bisa dibilang cukup cepat. Dimulai dari sekitar tahun 2008, awalnya printer DTG lokal hanya bisa mencetak ukuran A4 dan tidak bisa mencetak pada kaos di warna gelap. Sekarang ini sudah banyak printer DTG lokal yang bisa mencetak sampai dengan ukuran A3_ dan bisa pada kaos warna apa saja. Harga printer pun semakin lama semakin bersaing sehingga cukup terjangkau. Karena harganya yang lebi murah dan service yang lebih mudah, printer DTG lokal lebih banyak dipakai oleh tukang sablon di Indonesia yang melayani cetak kaos satuan atau sablon kaos satuan. Demikian sekilas sejarah printer DTG dari awalnya sampai ke Indonesia.

Sumber: http://sablonkaosandalas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *